Berita

Actual Issue


17-04-2013
Hari Kesehatan Sedunia 2013 : Hipertensi The Silent Killer of Death
05-08-2012
KEGIATAN MOCK SURVEY JCI
13-07-2012
presentation nursing by director of nursing royal darwin hospital
23-05-2012
Kunjungan dari AVI ( Australian Volanter Indonesia) dan Representative AUSAID
06-05-2012
Pohon kesan dan pesan di Wing Amerta

Hot News


26-05-2017
PENGUMUMAN PENERIMAAN TENAGA TIDAK TETAP NON PNS BLU 2017
30-05-2016
PERUBAHAN JAM KERJA DI RSUP SANGLAH
25-08-2015
PENGUMUMAN KELULUSAN PENERIMAAN PEGAWAI NON PNS BLU RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015
18-08-2015
Pengumuman Hasil Test MMPI, Paoli Dan Wawancara Seleksi Pegawai Non PNS BLU RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2015
08-08-2015
Pengumuman Hasil Ujian Computer Assisted Test (CAT) Seleksi Pegawai NON PNS BLU RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2015

Penerimaan Pegawai


10-01-2012
Pengumuman Hasil Seleksi Tahap I (Tes Tulis) Pegawai BLU Non PNS RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2012

Pengadaan Barang Jasa


18-05-2017
PENGUMUMAN PELELANGAN SEDERHANA DENGAN PASCAKUALIFIKASI PENGADAAN ALKES IMPLANT ORTHOPEDI NON E-CATALOG RSUP SANGLAH DENPASAR
12-05-2017
PENGUMUMAN PELELANGAN SEDERHANA DENGAN PASCAKUALIFIKASI PENGADAAN ALAT NON MEDIS 3 RSUP SANGLAH DENPASAR
13-04-2017
PENGUMUMAN LELANG CEPAT PENGADAAN PAKAIAN DINAS PEGAWAI RSUP SANGLAH DENPASAR
11-04-2017
PENGUMUMAN PELELANGAN SEDERHANA DENGAN PASCAKUALIFIKASI PENGADAAN ALAT NON MEDIS I (PENGADAAN DAN PEMASANGAN AC) RSUP SANGLAH DENPASAR
22-03-2017
PENGUMUMAN LELANG CEPAT PENGADAAN ALAT KESEHATAN ATROSKOPI RSUP SANGLAH DENPASAR

Top Story


28-08-2010
Wujud Kongkret Konsep Green Hospital
01-08-2010
HUT Bidan 2010
15-05-2010
Pelatihan penyegaran anggota pengamanan dan penertiban lingkungan
07-02-2010
Gizi Seimbang Kunci Hidup Sehat dan Produktif
23-11-2009
PERGANTIAN PEJABAT DI LINGKUNGAN RSUP SANGLAH DENPASAR
Berita sebelumnya...

Top Story > Gizi Seimbang Kunci Hidup Sehat dan Produktif

07-02-2010

Gizi Seimbang Kunci Hidup Sehat dan Produktif

Kondisi bangsa Indonesia pada saat ini dalam hal kesehatan, khususnya kecukupan gizi masih jauh dari cukup. Kecukupan gizi atau gizi baik belum terjangkau oleh masyarakat secara luas. Ini suatu hal yang ironis terjadi di masa millennium dimana "makan" telah menjadi bagian dari hak asasi manusia. Terlebih Bangsa Indonesia, bangsa yang terkenal akan kekayaan sumber daya alam dan kesuburan tanahnya, kecukupan gizi bagi rakyatnya adalah suatu keniscayaan. Kebutuhan gizi seimbang yang tercukupi akan tumbuh generasi yang sehat dan cerdas serta produktif.  Dari generasi ini akhirnya akan terbentuk bangsa yang maju dan kuat. Masalah kurang gizi mengandung biaya ekonomi, yakni dapat mengurangi Produk Domestik Bruto Indonesia hingga 3-4 persen, atau sekira Rp62 triliun per tahun (PDB 2008 Rp2,082 triliun).

Masalah gizi ini diketahui dan diperhatikan hanya oleh masyarakat menengah ke atas dan hanya pada kalangan terbatas yang berpikir dan mampu mengatakan bahwa masalah gizi ini penting. Sementara itu, masyarakat grassroot secara umum baru memikirkan kecukupan makan. Mereka belum dapat memperoleh pilihan macam yang dikonsumsi dalam kaitannya dengan kualitas kandungan gizi.sehat.

Gejala permasalahan gizi ini ditemui baik pada keluarga yang berada maupun keluarga miskin, khususnya di daerah perkotaan karena "salah makan", dengan sebab dan mekanisme yang berbeda. Mereka tidak tahu dan tidak berperhatian pada gizi cukup dan karena gaya hidup justru terancam beban ganda yaitu gizi kurang dan gizi lebih yang pada gilirannya meningkatkan beban ekonomi masyarakat.

Lebih lanjut masalah gizi pada masyarakat saat ini dapat dilihat dari penyandang gizi buruk yang diderita terutama pada kelompok yang paling rentan seperti: ibu hamil, balita dan perempuan. Kasus gizi buruk pada balita dapat mengakibatkan seseorang mengalami kelainan mental atau IQ di bawah rata-rata pada dewasa nanti. Situasi masyarakat bangsa dalam kaitannya dengan gizi memberi citra kurang positif bagi bangsa Indonesia. Banyaknya berita yang sering terekspos pada media massa menciptakan kesan pada masyarakat dunia yang menyebut Indonesia sebagai negeri yang subur tetap masih banyak warga bangsa yang menderita karena kurang asupan gizi yang baik.

Apakah hal ini karena penanganan masalah yang tidak tepat, yang kurang perhatian atau masih bersifat sporadis? Hal ini, harus menjadi perhatian dan keprihatinan kita semua untuk turut serta menyelesaikan masalah demi masa depan anak-anak bangsa generasi penerus agar tidak kehilangan generasi harapan.

Sehubungan dengan hal ini, peringatan Hari Gizi Nasional tahun 2010 yang jatuh pada tanggal 25 Januari ini semestinya dapat menjadi momentum untuk memantapkan langkah-langkah, menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, meningkatkan sistem surveilens, monitoring dan informasi kesehatan, meningkatkan perhatian masyarakat terhadap hidup sehat. Supaya peringatan Hari Gizi Nasional ini tidak hanya seremonial semata, maka pada setiap tahun kegiatan ini mesti  dievaluasi.

Tahun ini perayaan Hari Gizi Nasional. perayaannya disambut dengan berbagai kegiatan oleh berbagai elemen masyarakat. Mulai dari pembagian makanan gratis, susu, penyuluhan gizi hingga unjukrasa mewarnai peringatan Hari Gizi Nasional. Adapun yang menjadi sorotan para demonstran adalah buruknya gizi masyarakat Indonesia. Kasus gizi buruk merupakan salah satu kasus yang masih sering terjadi di Indonesia dan harus segera diselesaikan oleh pemerintah. Bila problem ini tidak ditanggulangi, tambahnya, maka mimpi untuk memiliki sumber daya manusia yang siap bersaing dengan negara luar akan sulit terwujud. Demikian salah satu point yang sering di dengungkan para demonstran.  Tuntutan ini sepertinya tidak berlebihan bila membaca laporan Global tentang Kemajuan Gizi Ibu dan Anak dari Badan PBB untuk anak-anak UNICEF . Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di peringkat lima dunia untuk negara dengan jumlah anak yang terhambat pertumbuhannya paling besar, dengan perkiraan sebesar 7,7 juta balita.
Tahun ini tampaknya perhatian terhadap pentingnya kebutuhan gizi rakyat mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Untuk pertama kalinya setelah 10 tahun akhirnya pemerintah memprioritaskan peningkatan kualitas gizi. Hal ini tampak dengan komitmen pemerintah untuk menurunkan jumlah kasus kurang gizi buruk di kalangan anak - anak Indonesia yang ditunjukan melalui prioritas program peningkatan gizi, seperti yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah  yang ditandatangai Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Walaupun sebenarnya tidak cukup hanya dengan hal itu melainkan diperlukan langkah - langkah kongkret dan kerjasama dari berbagai pihak, termasuk kesadaran  masyarakat akan pentingnya gizi bagi anak. Yang perlu disadari masalah gizi bukan hanya masalah urusan Kementerian Kesehatan, melainkan semua pihak.

Komitmen ini telah diulangi lagi oleh para pejabat tinggi di Departemen Kesehatan, Pertanian, Pendidikan, Dalam Negeri, dan Kementerian Koordinasi bidang Kesejahteraan Rakyat bersama-sama dengan Badan-Badan PBB yang terkait dalam perayaan Hari Gizi Nasional yang diselenggarakan Bappenas bersama-sama UNICEF. Berdasarkan hasil Survei Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2007, Indonesia telah mencapai salah satu indikator Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goal) yang pertama. Yaitu mengurangi jumlah anak dengan kekurangan berat badan pada usia balita hingga 18,4 persen. Meski begitu, kajian yang sama memperlihatkan angka yang sangat mengkhawatirkan, yaitu sebesar 37 persen anak balita mengalami masalah kurang gizi kronis. Itu berarti, setiap tiga anak di usia tersebut lebih pendek dibandingkan standar anak-anak seusianya. Di beberapa propinsi, misalnya Nusa Tenggara Timur, proporsi balita pendek mencapai 47 persen, yang berarti hampir setiap dua anak terhambat pertumbuhannya.

Sering mencuatnya kasus gizi buruk di Indonesia yang sering menghiasi media nasional, merupakan masalah yang cukup kompleks dengan beragam latarbelakang. Tidak semata-mata dari faktor kesehatan, tetapi juga faktor ekonomi, sosial bahkan budaya.

Penyebab utamanya memang miskin, tetapi juga ada karena keterbatasan wawasan orangtua yang berarti masalah pendidikan yang kurang. Juga bisa dipengaruhi masalah budaya. Contohnya, saat ini masih ada anggapan di tengah-tengah masyarakat kalau anak terlalu banyak makan ikan bisa cacingan. Anggapan ini sudah turun temurun dan masih bisa kita temui, utamanya di daerah-daerah yang sulit untuk mendapatkan ikan. Bahwa harus kita diakui, masih banyak masyarakat yang masih sulit untuk mendapatkan kebutuhan dasarnya. Penyebabnya, karena kemiskinan. Kamil, mengungkapkan masalah pemenuhan gizi, semestinya juga dilihat dari beragam faktor.

Di antara kelompok masyarakat yang anaknya terserang gizi buruk, mestinya tidak bisa terlalu disalahkan, karena tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi bagi sang buah hati. Bagaimana mereka bisa memenuhi kebutuhan gizi, sedangkan untuk bisa kenyang saja susah. Bagi kita, jadwal makan yang normal itu, tiga kali sehari dengan asupan gizi ini dan itu, sesuai dengan kebutuhan kalori tubuh. Tetapi bagi mereka, bisa makan satu kali sehari saja dengan menu utama nasi, kadang sudah merupakan anugerah.

Karenanya, untuk mengatasi masalah gizi buruk, tidak hanya dilihat dari satu sisi saja, yakni sisi kesehatan, tetapi juga harus dilihat dari sisi lainnya. Salah satunya, pengentasan kemiskinan dan peningkatan taraf pendidikan masyarakat, agar mereka keluar dari kemiskinan yang terstruktural dan turun temurun.

Kalau sudah sejahtera dan semua berpendidikan, maka dengan sendirinya masalah gizi buruk ini akan hilang dengan sendirinya.

Sebenarnya untuk menangani masalah-masalah seperti ini, kuncinya adalah political will dari pemegang kebijakan. Kalau dipersentasekan, 96 persen kunci keberhasilan penanganan kasus gizi buruk ada di tangan pengambil kebijakan. Sedangkan 4 persen itu, berada di tangan para tenaga-tenaga operasional

"Pemerintah menyadari pentingnya penanggulangan masalah kurang  gizi guna mendukung kemajuan Indonesia sebagai bangsa. Tanpa adanya gizi yang baik, kualitas sumber daya manusia kita terancam. Oleh sebab itu, kami telah memasukkan sasaran-sasaran dan upaya-upaya penting dalam hal perbaikan gizi, termasuk pengurangan proporsi balita pendek, di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014," kata Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Pembangunan dan Kebudayaan Bappenas Nina Sardjunani dalam siaran persnya.

 

 
 

RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR
Jalan Diponegoro Denpasar Bali (80114)
Telepon (0361) 227911-15, 225482, 223869, Faximile (0361) 224206

Website resmi Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar Bali (www.sanglahhospitalbali.com)