Informasi

Guide
Health Info
Knowledge
Policy
Promosi Kesehatan Rumah Sakit

> quitters can win

quitters can win

Disarikan dari buku :

JUDUL : QUITTERS CAN WIN, Hati-hati dengan keyakinan anda !

Pengarang           : Adi W. Gunawan

Penerbit                : PT. Gramedia Pustaka Utama

========================================================================

 

QUITTERS CAN WIN

 

            Vince Lombardi, pelatih sepak bola Amerika yang masyur pernah mengatakan, “Winner never quit and quitters never win”. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia, menjadi “Pemenang tidak pernah berhenti (mencoba) dan pecundang tidak akan pernah menang (karena berhenti mencoba).

            Perdana Menteri Inggris saat perang dunia kedua, Sir Winston Churchill, juga pernah berkata : “Never, never, never quit”.

            Apakah anda yakin dan percaya dengan apa yang dikatakan oleh kedua tokoh diatas?

 

            Banyak orang mempercayai atau menjadikannya sebagai kalimat motivasi yang bersifat afirmative. Bahkan ada yang menambahkan dengan pernyataan, “Sukses diukur bukan dari tingginya pencapaian. Sukses diukur lebih berdasarkan seberapa besar hambatan yang berhasil kita atasi dalam proses pencapaian sukses” dan “Tidak penting berapa kali anda jatuh yang penting adalah berapa kali anda bangkit kembali setelah anda jatuh”. Lengkaplah sudah keyakinan akan hal tersebut hingga menjadikan seseorang membuat keputusan untuk terus maju tak gentar menghadapi berbagai hambatan dan kesulitan dalam proses menuju sukses yang diidamkan.

            Setiap kali ingin berhenti, selalu tidak bisa. Mengapa? Karena yakin Winners never quit and quitters never win. Jika berhenti, berarti menjadi seorang pecundang. Karena inilah, senantiasa keputusan untuk terus maju tak gentar selama bertahun-tahun, mengejar impian tanpa melakukan analisis kritis terhadap situasi dan kondisi kehidupan pribadi. Pokoke maju terus..

            Disisi lain berkembang pula kepercayaan, : “Tidak ada orang gagal. Setiap orang pada dasarnya orang sukses. Mereka gagal karena mereka berhenti terlalu cepat”. Betapa berbahayanya kepercayaan ini.

            Apakah anda juga pernah dan sedang mengalami hal yang sama? Bersyukurlah bila anda belum mengalaminya. Namun, tetaplah bersyukur bila ternyata anda telah mengalaminya karena anda tidak sendirian.

            Pernyataan kritis yang seharusnya kita ajukan adalah, “Benarkah winner never quit and quitters never win ?” Bagaimana kalau pernyataan itu kita plesetkan menjadi, “Quitters can win if they know the right reason, the right way, and the right time to quit?”

            Seringkali kita membaca atau mendengar kisah mengenai kehidupan seorang teman, kerabat, public figure atau seseorang yang tidak kita kenal, yang memiliki pola yang sama, yaitu berkeluh kesah. Ada yang mengeluhkan bisnis yang mereka jalankan selama beberapa tahun tapi belum membuahkan hasil seperti yang mereka inginkan. Mereka sangat ingin berhenti, tetapi tidak bisa. Alasannya, kepalang tanggung karena sudah dijalankan beberapa tahun, sayang kalau berhenti di tengah jalan. Intinya, jika berhenti, mereka akan menjadi pecundang. Benarkah..?

            Keengganan berhenti atau quit juga terjadi dalam aspek kehidupan lain. Ada seorang perempuan yang telah menjalin hubungan dengan seorang pria selama berpuluh puluh tahun dan dia tahu hubungan ini tidak akan kemana-mana, bahkan tahu pacarnya ini bukan tipe pria yang bertanggung jawab dan tentunya bukan tipe ideal yang diidam-idamkannya. Namun, ia tidak berani quit atau memutuskan untuk putus. Ketika dicari tahu alasannya tidak berani putus dan mencari pasangan lain yang lebih cocok, jawabannya sungguh mengejutkan, “Lha, saya kan sudah pacaran hampir lima belas tahun. Kalau harus memulai dari awal lagi, rasanya berat bagi saya. Selain itu, usia saya sekarang juga sudah hampir 30 tahun. Sulit mencari pasangan dengan usia saya sekarang ini. Rugi dong kalo saya berhenti sekarang.

            “Tentu saja, jawaban itu kurang pas. Bukankah menikah untuk mencari ketenangan dan kebahagiaan? Lha, kalau ketika masih pacaran saja ternyata sudah begini modelnya, mau jadi apa nanti kalau sudah menikah? Sepintas terkesan tidak mau rugi. Mungkin baginya masa pacaran yang sudah lima belas tahun itu adalah masa investasi. Dengan demikian, ia telah menghitung ROI (Return On Investment) dan berapa Potential Loss yang mungkin terjadi jika ia quit. Lalu apakah kita boleh quit? Tentu boleh dan sangat logis, karena hidup adalah sebuah pilihan. Siapa yang berhak melarang ? Ini hidup kita sendiri. Kita mau quit atau terus, itu urusan kita. Orang lain tidak boleh dan tidak berhak ikut campur. Satu hal yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh adalah bahwa kita harus punya alasan yang tepat ketika memutuskan untuk quit. Tidak asal quit...

            Kita harus jujur pada diri sendiri. Apakah kita quit karena kita memang malas, tidak termotivasi, tidak tahan menderita, kurang ulet, ataukah karena setelah bekerja sangat keras, berusaha dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, melakukan Whatever it takes, massive action dengan burning desire, kita sampai pada satu kesimpulan bahwa apa yang kita lakukan ternyata tidak sejalan dengan value atau nilai-nilai hidup kita ?

            Quit tidak hanya berlaku untuk mereka yang belum berhasil mencapai sesuatu. Mereka yang sebenarnya telah berhasil mencapai kesuksesan pada level tertentu juga bisa quit jika merasa hambar dengan hidup mereka.

            Ada sebuah kisah seorang financial consultant, di Jakarta, yang sangat sukses dengan kariernya. Pada usia 40 tahun, ia memutuskan untuk quit dan banting stir menjadi seorang pelukis. Tentu tidak mudah melakukan hal ini. Banyak kawannya yang menyebutnya gila karena meninggalkan karier yang begitu cemerlang dan telah memberi hasil begitu besar, khususnya secara finansial. “Saya merasa jauh lebih tenang, damai dan bahagia dengan menjadi seorang pelukis. Ini adalah impian yang saya kubur sekian lama. Sekarang saya telah menjadi orang yang bebas mengekspresikan diri saya sendiri,” ungkapnya lugas.

            Contoh diatas menunjukkan bahwa seringkali ketika seseorang mendaki tangga kesuksesan dan telah mencapai puncak, ia baru sadar ternyata tangganya bersandar pada tembok yang salah. Nah, kalau begitu, apa yang harus dilakukan? Ya, banting setir seperti si Financial consultant ini.

            Mengapa tangga bisa bersandar di tembok yang salah dan kita tidak tahu atau menyadarinya? Jawabannya sangat sederhana. Kebanyakan dari kita tidak merancang hidup dengan hati-hati dan seksama. Manusia pada umumnya menjalani hidup asal-asalan dan tidak punya peta kehidupan yang akan mereka jalani.

            Di berbagai buku pengembangan diri, seminar motivasi, seminar sukses dan berbagai program video dapat dipelajari, umumnya kita diminta untuk membuat daftar impian secara tertulis. Impian ini harus lengkap, meliputi berbagai aspek kehidupan. Ada aspek spiritual, finansial, bisnis-karier, materi, sosial, keluarga, kesehatan fisik dan mental.

            Namun seiring berkembangnya kesadaran diri melalui proses pembelajaran dan perjalanan hidup, hendaknya perlu disadari satu hal yang selama ini luput dari perhatian kita. Ternyata menyusun impian tidak boleh asal-asalan. Untuk itu, pertama-tama kita perlu mencari tahu, menetapkan dan menyusun nilai-nilai hidup (Value). Value adalah apa yang kita yakini sebagai hal yang penting bagi hidup kita. Ia berperan sebagai kompas yang mengarahkan perahu kehidupan kita. Jika dikaitkan dengan cerita mengenai tembok yang salah tadi, yang dimaksud dengan “Tembok” itu adalah value.

            Dengan didasarkan kepada value, impian yang disusun tidak akan menyimpang dari tujuan hidup kita. Dengan demikian, saat kita mencapai puncak kesuksesan, kita justru akan semakin semangat dan bahagia.

            Mengapa bukan berdasarkan pendidikan formal kita? Karena ada begitu banyak orang yang salah jurusan saat kuliah di perguruan tinggi. Ada sebuah kisah hidup yang dialami seorang wanita, dokter umum berusia 29 tahun, yang sedang mengambil spesialisasi menjadi dokter ortopedist. Ia mengaku bahwa ia sebenarnya tidak suka dengan jurusan yang saat ini dia tempuh. Ia merasa letih sekali. Padahal, ini baru tahun pertamanya.

            Sewaktu ditelusuri mengapa ia meneruskannya dan tidak berhenti saja, jawabannya sama seperti yang biasa kita terima. “Sudah kepalang basah, kalau berhenti sekarang, untuk apa saya kuliah di kedokteran umum?”.

            “Lho, dulu kok memilih masuk kedokteran?” Ya, soalnya kata Om saya, kalau jadi dokter, hidupnya enak,” jawabnya.

            “Lalu, kenapa memilih spesialisasi di bidang tulang, bukan yang lain?” kejar saya. “Sebenarnya saya lebih suka menjadi dokter spesialis anak, tetapi masuknya sangat sulit. Saya sudah mencoba, tapi tidak bisa.    

Kisah ini sangat berbeda dengan kisah yang dialami Lan Fang, di Surabaya. Dulu ia adalah seorang agen asuransi yang sangat berhasil. Namun, hatinya selalu gelisah. Ia merasa asuransi bukan dunia yang sesuai dengan panggilan hatinya. Ia senang menulis. Sambil menjadi agen asuransi, ia telah menulis beberapa novel yang ternyata sangat berhasil. Cukup lama Lan Fang bimbang. Namun, setelah melakukan perenungan mendalam, ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti suara hatinya, menjadi seorang penulis buku, full time.

            Ada banyak yang menyayangkan ia berhenti sebagai agen asuransi mengingat potensinya yang sangat luar biasa. Namun, ia memutuskan quit dengan alasan yang tepat, di saat yang tepat dan dengan exit strategy yang tersusun baik dan matang. Sampai saat ini, ia telah menulis delapan novel. Diantaranya, Reinkarnasi, Laki-laki Yang Salah, Perempuan Kembang Jepun dan Kota Tanpa Kelamin.

            So, siapa bilang quitters never win? Seringkali the real winner adalah mereka yang berani quit. Dan the real loser justru mereka yang bersikeras berkata, “Never, never, never quit”. Anda perlu hati-hati agar tidak menjadi winner diantara para loser karena anda adalah yang paling tidak mau quit..

 

Lanang Su     

 

           

 
 

RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR
Jalan Diponegoro Denpasar Bali (80114)
Telepon (0361) 227911-15, 225482, 223869, Faximile (0361) 224206

Website resmi Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar Bali (www.sanglahhospitalbali.com)