Informasi

Guide
Health Info
Knowledge
Policy
Promosi Kesehatan Rumah Sakit

> NI LUH SARI DAN MADE ASMARA

NI LUH SARI DAN MADE ASMARA

Ni Luh Sari dan Made Asmara

Apa yang akan anda lakukan kalau seorang sahabat anda sedang kesusahan  dan memerlukan uang? Membantunya secara cuma – cuma atas dasar kemanusiaan, membantunya dengan prasyarat atau membiarkan saja? Jawaban atas pertanyaan ini sulit – sulit gampang. Mirip kisah anak manusia yang di sebuah pulau seperti yang pernah diceritakan ulang oleh Sutjipto Wirosardjono. Kisah ini saya dapat saat menjalani  kuliah S2 Marketing, namun kisah ini juga sering dijadikan bahan test case bagi para marketer. Cerita ini semata – mata bertujuan untuk mengasah kepekaan para mahasiswa dan calon marketer menangkap dan menganalisa sebuah peluang dan tindakan. Maka membaca kisah ini sebaiknya  didasari marketing point of view. Karena ini kisah rekaan tentu saja tokoh yang ada adalah fiktif dan manipulatif.

Begini, tersebutlah disebuah pulau sebut saja Pulau Nusa Ayu, entah bagaiman awalnya hidup dua anak manusia,Laki – laki dan perempuan. Yang perempuan panggil saja Ni Luh Sari dan yang laki – laki bernama Wayan Dogler. Pulau tempat tinggal mereka terpencil, dikelilingi laut yang banyak dihuni ikan hiu yang ganas. Tidak ada manusia lain di pulau itu kecuali mereka berdua.

Ni luh Sari tergolong perempuan setia. Walaupun hidup hanya berdua di sebuah pulau terpencil, ia tidak pernah mengkhianati kekasihnya, karena memang cintanya hanya satu untuk Made`Asmara pacarnya di seberang pulau.

Masalah timbul saat Sari hendak mau menyeberang untuk berjumpa sang pujaan hati karena ia tidak bisa berenang dan tidak punya perahu. Padahal rindunya dengan sang pacar sudah ke ubun – ubun ingin segera berjumpa dengan pujaan hati.

Berbulan – bulan Sari menunggu kesempatan sampai akhirnya datang seorang tukang perahu ke pulau itu. Sari mohon di seberangkan tapi si tukang perahu tidak mau menyebrangkan Cuma – Cuma, ia  minta upah.

“Kalau tidak dibayar saya tidak mau menyeberangkan mbak,” kata Si tukang perahu.

“Saya tidak punya uang. Tapi tolonglah pak…….,” Sari memelas.

“Nah kenapa tidak itu saja yang mbak jual?”

“ahhh…….??? maksud bapak, menjual diri saya?”

Pernyataan si tukang perahu bagai petir di siang bolong menyambar tubuhnya. Sari terkejut  bukan kepalang dan hampir pingsan. Tetapi cinta dan rindu kadang mengalahkan segalanya, termasuk akal sehat. Dengan berat hati Sari melayani syarat yang di ajukan si tukang perahu.

Singkat cerita, hal yang tidak diharap Sari namun diharap si tukang perahu terjadilah.

Hasrat Sari berjumpa Made Asmara kesampaian. Tetapi di perut Sari juga ada benih, hasil karya Si tukang perahu.

Perasaan Sari bergejolak saat akan berjumpa Asmara. Banyak bayangan seram menyelimuti perasaanya, antara senang dan sedih. Ternyata apa yang terjadi?.Asmara menolak. Karena ia tidak mau menerima benih yang bukan hasil karyanya.

“Tolonglah mengerti Bli Made, semuanya kulakukan agar kita bisa bertemu,” tangis Sari sesengukan .

“No!!!” jawab Asmara tegas dan ketus, “kalau tidak ada transaksi dengan saya, kenapa mesti saya yang bayar?”

Sari nyaris bunuh diri, kalau saja Dogler tidak datang sebagai penyelamat. Entah bagaimana Dogler hadir seketika itu.

“Baiklah Sari, Asmara boleh menampik cintamu, tetapi si jabang bayi harus diselamatkan . aku bersedia menerimamu dalam keadaan begini,” ujar Dogler terharu.

Tepatkah keputusan yang diambil Dogler? Etiskah perbuatan Si Tukang perahu? Benarkah langkah yang diambil Sari? Manusiawikah penolakan Asmara?

=========================

Secara manusiawi anda tentu membenarkan Dogler. Tetapi dari segi bisnis? “kalau seorang pengusaha selalu jatuh kasian, usahanya bisa bangkrut,” ujar seorang sahabat, seorang pengusaha batik. “ keputusan Dogler itu konyol,” tambahnya.

Ikwal penolakan Asmara? “boleh jadi ia dibilang kejam. Tetapi apa salahnya? Kalau produksi bukan pabriknya, untuk apa ia menanggung biaya produksi?”.

Soal Sari yang nekat? “ah, Sari hanya melihat kepentingannya sendiri. Hanya lantaran kangen, dia menjual dirinya. Padahal ini merugikan kepentingan Asmara. Kalau mau exspansi usaha silakan, tetapi kalau bangkrut janganlah orang lain diajak ikut bangkrut,” seloroh teman saya.

Lalu keputusan siapa yang paling tepat? “Si Tukang Perahu! Dia yang paling rasional dari segi bisnis. Kalau mau belanja ya harus punya duit. Tak ada uang tak ada yang bisa dibeli. Tidak ada yang bisa kita dapatkan tanpa pengorbanan.

=======================

 

Cerita ini pasti mengusik moral dan rasa kesetia kawanan. Memang tidak sepenuhnya tepat membandingkan soal kemanusiaan dengan persoalan bisnis. Tetapi begitulah umumnya di dunia bisnis. Tidak ada bantuan yang tanpa imbalan. Namun hakekat dari cerita ini ingin menyampaikan, semestinya kita sigap mengambil kesempatan dan jeli memperhitungkan setiap tindakan yang kita ambil. Maaf boleh di sebut si Tukang Perahu cekatan mengambil untung, dan Sari lalai menghitung resiko, walau niat dia baik berkorban untuk kekasihnya.

Sedangkan Dogler tidak suka berbuat dan tidak mau berhitung, mau gampang saja tanpa mau berusaha. Memang dia cepat menikmati hasil, namun nyamankah ia menikmati hasil kerja oranglain?. Saya kira belum tentu!!!

Cerita ini tidak menganjurkan anda untuk memilih menjadi salah satu tokoh diatas.Yang jelas setiap tindakan pasti mengandung akibat. Tinggal kita pandai berhitung plus minusnya agar tidak besar pasak daripada tiang. Niat baik tidak selalu berbuah kebaikan. Kadang simetris kadang asimetris, tergantung tempat, waktu dan kemasan yang kita tampilkan.

 
 

RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR
Jalan Diponegoro Denpasar Bali (80114)
Telepon (0361) 227911-15, 225482, 223869, Faximile (0361) 224206

Website resmi Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar Bali (www.sanglahhospitalbali.com)